kampoengnya inspirasi yang aneh…

umumiyahMay 18, 2009 5:16 am

 Assalamualaykum

Salam kreativitas tanpa batas

Ketika kecil dulu, beberapa diantara kita tentu tidak asing dengan sebuah permainan yang disebut dengan ular tangga. Permainan ini sering sekali dianggap sebagai permainan yang mengandalkan keberuntungan. Ya, karena hanya dengan menggelindingkan sebuah dadu dan kemudian kita melangkahkan bidak kita sejumlah noktah yang berada pada dadu tersebut. Lebih dari itu, kalo kita memaknai bagaimana seseorang dikatakan menang dalam ular tangga, ternyata butuh perjuangan yang sangat panjang. Terkadang ketemu dengan tangga yang membawa kita kepada posisi yang lebih tinggi. Dan ketika sudah berada pada posisi yang lebih tinggi, terkadang kita ketemu dengan ular yang memaksa kita untuk turun posisi. Ya, begitulah kehidupan, kadang naik kadang turun. Satu hal lagi, ketika sudah akan ketemu dengan titik terakhir, ternyata kadang kita tidak menemukan noktah yang menunjukkan jumlah langkah untuk mencapai titik tersebut. Kadang lebih dan memaksa kita untuk mundur terlebih dahulu, kadang kurang. Ya begitulah kehidupan, biarlah indah pada waktunya.

Pada kesempatan kali ini, kita tidak akan banyak bercerita tentang keberuntungan dan perjuangan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Kita juga tidak akan membahas sebuah perjudian yang dilakukan dengan menggelindingkan atau menguncalkan (kata salah seorang dosen probabilita dan statistika ketika duduk di bangku kuliah dulu) sebuah dadu. Lha terus mbahas apa donk…mbahas ular aja halah. Sahabat kreatif, kalo kita mau cermat dengan sebuah benda bernama dadu, kita tidak akan menemui dadu yang tidak bernoktah. Dadu yang normal, yang memiliki enam sisi (karena dulu dosen yang saya ceritakan diatas katanya pernah mencoba mencari dadu bersisi delapan sampe ke negeri cina, kayak menuntut ilmu aja ya sampe ke negeri cina hehe..) selalu memiliki noktah pada setiap sisinya. Dari noktah bermata satu sampe noktah bermata enam. Sudahkah sahabat kreatif menangkap apa yang saya maksudkan???

Jujur saja sich saya tidak yakin sahabat kreatif bisa menangkap maksud saya, lagian saya memang tidak menguncalkan maksud saya, sehingga wajar saja sahabat kreatif tidak bisa menangkap maksud saya hehe….

Sahabat kreatif, dadu bermata enam tersebut pada dasarnya memberikan kita sebuah pesan dan motivasi yang luar biasa dan super, bahwa yang namanya kehidupan itu harus tetap berjalan, apapun yang terjadi, apapun yang harus kita hadapi, kita harus tetap melangkah dan berjalan, baik sedikit ataupun banyak. Apakah berjalan hanya satu langkah, apakah dua langkah lebih-lebih kita mampu berjalan enam langkah, sehingga kita bisa dengan lebih cepat meraih apa yang kita tuju. Lebih cepat lebih baik kalo kata salah satu pasangan capres-cawapres. Dadu tersebut seolah memberikan pesan juga untuk tidak pernah surut walau selangkah dan tidak henti walau sejenak untuk meraih cita kita.

Sahabat kreatif, masihkah kita tetap terdiam terpaku dan memasang standar dan akhirnya ga jalan?? Sepertinya kita perlu menengok kembali dadu kita, jangan-jangan ada sisi yang tidak ada noktahnya. Kalo seperti itu berarti kita perlu menggambar noktah pada dadu kita sehingga kita akan selalu berjalan dan tidak stagnan. Kalo perlu gambar di dadu kita sebanyak seratus noktah, biar kalo seperti maen ular tangga, sekali start kita bisa langsung mencapai tujuan, sampe gambar piala hehehe….

Bagaimana dengan sahabat kreatif, masih punya dadu tak bernoktah dan ga berani menguncalkannya, atau berani menggambar banyak noktah di dadu kita dan kemudian diuncalkan biar bisa berjalan lebih cepat???ayo..uncalkan dadumu…

umumiyahMay 4, 2009 5:58 am

Assalamualaykum

Salam Kreatifitas Tanpa Batas….

Ada banyak sekali orang yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Sampai akhirnya dengan berkedok motto tersebut, maka orang-orang seperti memperkenankan dirinya untuk berbuat kesalahan atau mendapatkan kegagalan minimal sekali. Kenapa minimal sekali, karena pada kasus terbaik, dari kesalahan dan kegagalan itu, orang tersebut berhasil belajar dan akhirnya tidak mengulanginya.  Walaupun mungkin ada orang yang sampai beberapa kali mengulangi kesalahan dan kegagalan yang sama.

Sahabat kreatif, beberapa hari yang lalu saya sempat berpetualang ke salah satu kota wali, bukan Kudus tentunya, melainkan Cirebon untuk memenuhi undangan resepsi pernikahan seorang rekan. Saya menyebut petualangan tersebut dengan wisata freelance hehe….. Pada kesempatan itu memang saya diminta untuk menjadi salah seorang yang harus muncul di depan umum. Lebih dari itu saya memang sedang mencari ide untuk menjadi seorang freelancer hehe….

Menjadi bagian dari acara, tentunya mau tidak mau harus mengerti tentang konsep dan bagaimana jalannya acara nantinya. Apalagi peran saya disana adalah sebagai pengatur acara. Namun, sampai pada hari saya disana, jujur saja saya masih bingung dengan acara yang akan dilangsungkan nanti. Hanya beberapa keterangan global yang didapatkan. Hmm…. bingung juga saya… dan tentu saja muncul kekhawatiran akan jalannya acara.

Ketika acara mulai, sepertinya tidak akan banyak kendala, namun beberapa waktu kemudian…ya….susunan acara yang memang tidak pernah sampai di tangan saia memaksa saya untuk sedikit berimprovisasi saja. Dan akhirnya, tidak terlalu menyenangkan. Keterbatasan perlengkapan juga menjadi kendala yang sangat berarti…..

Sahabat kreatif, masihkah kita mau belajar dari pengalaman hanya karena pengalaman adalah guru yang terbaik??? Jika iya mungkin sahabat perlu mengadakan resepsi dulu dan kemudian belaar dan setelah itu baru mengadakan resepsi yang bener-bener bagus….wah nikah dua kali donk hehehe….. Maka pilihan yang paling top markotop adalah bagaimana caranya kita banyak belajar dari pengalaman orang laen….Kita punya guru, namanya pengalaman kita, orang lain punya guru namanya pengalaman orang laen….Kalau kita bisa les privat dari guru orang laen, mungkin kita bisa lebih banyak belajar…Belajar dari orang laen, kita tidak perlu mengadakan resepsi dua kali untuk menyelenggarakan resepsi yang bagus….ya kalo mau ngadain resepsi dua kali ya dua-duanya bagus lah hehehe…

Belajar dari pengalaman orang laen tentu tidak selalu berhadapan langsung dari orangnya, banyak membaca, banyak mendengar dan banyak berinteraksi dengan banyak orang akan membantu sahabat untuk belajar dari gurunya orang laen…

Bagaimana dengan insan kreatif, berani belajar dari gurunya orang laen…

umumiyahApril 27, 2009 5:58 am

Assalamualaykum

Salam kreatifitas tanpa batas

Sapa mau ikut ke pasar?? Nak ikut nak ikut…. Mungkin kata-kata itu sangat familiar dengan sahabat kreatif yang sering menikmati salah satu serial kartun dari malaysia yang sempat diputar di salah satu stasiun tipi swasta. Kalimat ini seperti menjadi sebuah kalimat untuk menyatakan persetujuan dan dengan semangat mengikuti orang yang mengajaknya.

Ngemeng-ngemeng tentang ajak-mengajak, saya jadi teringat dengan sebuah kejadian di sore hari ketika saya menuju ke masjid di kantor. Ketika itu saya berada di belakang seorang teman. Karena tujuannya sama, ya saya asal mengikuti sahaja. Jalan tersebut juga menjadi akses keluar masuk bagi para karyawan, maka tidak salah jika di jalan tersebut terpasang sepasang pintu detector. Tentu saja pintu detector dipakai biar tidak terjadi tindak pengutilan halah…ya intinya biar menjaga niat kita untuk jujur dalam bekerja saja. Di bawah pintu detector tersebut terdapat sebuah kotak kayu berwarna hijau. Kotak hijau tersebut terlihat masih baru. Sejatinya, saya tidak tau apa fungsi dari kotak tersebut di pintu detector. Ketika melewati pintu tersebut, rekan di depan saya melompati kotak kayu tersebut. Dengan pengetahuan yang tidak ada tentang fungsi dan aturan tentang kotak kayu tersebut, saya ikut aja., asal melompati kayu tersebut. Di pintu detector yang laen, ada orang yang melewati pintu detector tersebut dengan menginjak kotak kayu berwarna hijau tersebut dengan santai. Wah, saya jadi agak malu. Kalo bahasa lagu sich…..Aku tertipu….. Aku terjebak…. aku terperangkap muslihatmu…hahaha….

Ternyata kotak kayu tersebut ternyata memang untuk alas ketika nanti kita lewat pintu detector biar pihak security tidak kesulitan memeriksa bagian bawah kita. Wah….tau gitu mending diinjak sahaja ya…

Sahabat kreatif, begitulah nasib kita kalo menjadi pengikut dengan modal pengetahuan yang sedikit. Yang ada kita hanya disuruh-suruh tanpa tau tujuannya apa. Lebih-lebih kita malah disuruh pada hal-hal yang tidak baik. Ya, jadi pengikut boleh lah, tapi harus berwawasan, biar kalo disuruh-suruh yang ga penting dan ga bener kita bisa berargumen dengan santun. Namun ada pilihan lain sebenernya, yaitu menjadi pemimpin. Kalo ga jadi follower yang berwawasan ya jadi leader, malah sesuatu yang membanggakan. Apalagi kalo memimpin dengan baik, karena tentunya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin. Memimpin dengan baik tentunya bisa mengajak yang kita pimpin kepada kebaikan pula. Tentu saja tidak semua orang bisa memimpin orang laen, kalo semua jadi pemimpin sapa donk yang jadi pengikut. Namun, sebenernya even kita tidak memimpin orang lain, kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Maka, kita akan memimpin seluruh anggota tubuh kita, seluruh perasaan kita, seluruh pikiran kita dan segala apa yang kita miliki. Nah, menjadi pemimpin yang baik bagi diri kita tentu menjadi sebuah pilihan pasti, karena suatu saat nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban.

Bagaimana dengan sahabat kreatif…nak ikut menjadi follower yang berwawasan atau menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab…